Ayah oleh Wardatul Aini
Aira berjalan dengan wajah ditekuk. Air
mukanya terlihat sangat keruh. Sesampai di teras dengan kuat ia melempar tas
ransel ke atas kursi bambu yang terletak di sayap kanan rumah. Berikutnya Aira
membuka sepatu. Setelah kedua sepatu terlepas dengan kuat pula ia melempar
sepatunya dan tepat mendarat di bawah pohon jambu yang sedang berbuah lebat.
Masih dengan raut wajah yang tidak menyenangkan Aira masuk tanpa membawa tas
masuk serta bersamanya. Ia terus melangkah ke dapur mendekati kulkas.
Dituangkan air dingin dalam gelas. Dalam sekejap air itu telah berpindah tempat
ke dalam tubuhnya memberikan rasa sejuk yang menjalar ke dalam rongganya yang
terasa gersang.
“Sudah pulang, Sayang?” tanya Bu Lidia
sambil terus mengaduk sambal goreng yang mulai menebarkan bau harum.
Aira bergeming. Jangankan menjawab
menoleh saja ke mamanya tidak dilakukan. Hatinya masih kecut. Setelah
memastikan segelas air yang baru diteguknya cukup membuat aliran darah membaik ia bergegas ke kamar mandi mengambil
wudhuk.
Sepuluh menit berlalu, baik Aira maupun
Bu Lidia telah menyelesaikan tugasnya masing-masing. Aira sudah membayar
hutangnya pada Ilahi sedang Bu Lidia telah membereskan dapur dan telah
menghidangkan makanan di atas meja, siap disantap.
“Sayang, tidur rupanya.”
Aira merengut. Lagi-lagi mukanya
ditekuk.
“Ayok, makan. Hari ini Mama masak tempe
goreng sambal teri kesukaan Aira.”
“Aira nggak mau, Ma.”
“Lah, kenapa?”
Aira bergeming.
“Aira sedih?” Bu Lidia membelai rambut
ikal Aira dengan lembut.
Aira mengangguk.
Dengan sigap Bu Lidia menarik tubuh
mungil Aira dalam dekapannya.
“Aira sedih kenapa, Nak?”
“Tadi di sekolah teman-teman pada
menulis surat untuk ayah mereka. Kata Bu Guru hari ini hari Ayah kami disuruh
mengungkapkan cinta lewat surat terus sepulang sekolah surat itu disuruh
berikan untuk ayah.”
Mendengar kata ‘Ayah’ yang diucapkan
Aira hati perempuan berhidung mancung itu terenyuh.
“Aira diejek teman-teman, Ma. Mereka
bilang Aira tidak punya ayah.”
Bu Lidia merasakan jantungnya berdegub
kencang.
“Sayang. Seorang anak dilahirkan karena
penyatuan dua cinta, cinta mama dan cinta ayah.”
Mendengar kata ‘cinta ayah’ mata Aira
langsung berbinar, “Bearti Ayah mencintai Aira?”
Bu Lidia mengangguk. Di wajahnya
terbingkai sebuah senyuman getir.
Bagi Aira kata cinta adalah benda
termahal yang sangat ingin dimiliki olehnya. Begitu mama menyebutkan ‘cinta ayah’
raut wajah Aira langsung terlihat sumringah.
“Tapi, kenapa Ayah tidak pernah pulang?”
Pertanyaan ini selalu menjadi pertanyaan
tersulit yang harus dijawab perempuan itu.
Selama ini setiap kali Aira bertanya tentang
ayah jawaban yang selalu diberikan adalah ayahnya telah pergi. Aira kecil hanya
mengangguk. Selama ini tidak ada pembahasan lebuh lanjut tentang kemana ayahnya
pergi.
Benar adanya Deni-ayah Aira- pergi
setahun setelah mereka menikah tepatnya sebulan setelah kelahiran Aira. Waktu
itu Deni pergi bersama perempuan cantik. Tidak hanya sekedar cantik perempuan
yang memiliki penampilah high class
itu berasal dari keluarga terpandang. Tapi, entahlah. Apakah saat ini mereka
masih bersama atau tidak. Melihat binar bahagia yang terpancar di mata Aira, Bu
Lidia sudah sangat bahagia. Saat ini kebahagian Aira adalah yang terpenting
baginya. Sedangkan Deni adalah bagian dari masa silam yang pernah menorehkan
tinta di atas beberapa lembar kertas di kanvas masa lalunya.
note: Sebenarnya FF ini di post untuk memperingati hari Ayah. Tetapi, postingan in sudah jauh dari deadline ya. Hehehehhe. Ngak apa-apalah, ya. Terima kasih sudah berkunjung.
