Back To Top
Diberdayakan oleh Blogger.

Goresan Cinta

Minggu, 19 November 2017

Ayah oleh Wardatul Aini

Aira berjalan dengan wajah ditekuk. Air mukanya terlihat sangat keruh. Sesampai di teras dengan kuat ia melempar tas ransel ke atas kursi bambu yang terletak di sayap kanan rumah. Berikutnya Aira membuka sepatu. Setelah kedua sepatu terlepas dengan kuat pula ia melempar sepatunya dan tepat mendarat di bawah pohon jambu yang sedang berbuah lebat. Masih dengan raut wajah yang tidak menyenangkan Aira masuk tanpa membawa tas masuk serta bersamanya. Ia terus melangkah ke dapur mendekati kulkas. Dituangkan air dingin dalam gelas. Dalam sekejap air itu telah berpindah tempat ke dalam tubuhnya memberikan rasa sejuk yang menjalar ke dalam rongganya yang terasa gersang.

“Sudah pulang, Sayang?” tanya Bu Lidia sambil terus mengaduk sambal goreng yang mulai menebarkan bau harum.

Aira bergeming. Jangankan menjawab menoleh saja ke mamanya tidak dilakukan. Hatinya masih kecut. Setelah memastikan segelas air yang baru diteguknya cukup membuat aliran darah  membaik ia bergegas ke kamar mandi mengambil wudhuk.

Sepuluh menit berlalu, baik Aira maupun Bu Lidia telah menyelesaikan tugasnya masing-masing. Aira sudah membayar hutangnya pada Ilahi sedang Bu Lidia telah membereskan dapur dan telah menghidangkan makanan di atas meja, siap disantap.

“Sayang, tidur rupanya.”

Aira merengut. Lagi-lagi mukanya ditekuk.

“Ayok, makan. Hari ini Mama masak tempe goreng sambal teri kesukaan Aira.”

“Aira nggak mau, Ma.”

“Lah, kenapa?”

Aira bergeming.

“Aira sedih?” Bu Lidia membelai rambut ikal Aira dengan lembut.

Aira mengangguk.

Dengan sigap Bu Lidia menarik tubuh mungil Aira dalam dekapannya.

“Aira sedih kenapa, Nak?”

“Tadi di sekolah teman-teman pada menulis surat untuk ayah mereka. Kata Bu Guru hari ini hari Ayah kami disuruh mengungkapkan cinta lewat surat terus sepulang sekolah surat itu disuruh berikan untuk ayah.”

Mendengar kata ‘Ayah’ yang diucapkan Aira hati perempuan berhidung mancung itu terenyuh.

“Aira diejek teman-teman, Ma. Mereka bilang Aira tidak punya ayah.”

Bu Lidia merasakan jantungnya berdegub kencang.

“Sayang. Seorang anak dilahirkan karena penyatuan dua cinta, cinta mama dan cinta ayah.”

Mendengar kata ‘cinta ayah’ mata Aira langsung berbinar, “Bearti Ayah mencintai Aira?”

Bu Lidia mengangguk. Di wajahnya terbingkai sebuah senyuman getir.

Bagi Aira kata cinta adalah benda termahal yang sangat ingin dimiliki olehnya. Begitu mama menyebutkan ‘cinta ayah’ raut wajah Aira langsung terlihat sumringah.

“Tapi, kenapa Ayah tidak pernah pulang?”

Pertanyaan ini selalu menjadi pertanyaan tersulit yang harus dijawab perempuan itu.

Selama ini setiap kali Aira bertanya tentang ayah jawaban yang selalu diberikan adalah ayahnya telah pergi. Aira kecil hanya mengangguk. Selama ini tidak ada pembahasan lebuh lanjut tentang kemana ayahnya pergi. 

Benar adanya Deni-ayah Aira- pergi setahun setelah mereka menikah tepatnya sebulan setelah kelahiran Aira. Waktu itu Deni pergi bersama perempuan cantik. Tidak hanya sekedar cantik perempuan yang memiliki penampilah high class itu berasal dari keluarga terpandang. Tapi, entahlah. Apakah saat ini mereka masih bersama atau tidak. Melihat binar bahagia yang terpancar di mata Aira, Bu Lidia sudah sangat bahagia. Saat ini kebahagian Aira adalah yang terpenting baginya. Sedangkan Deni adalah bagian dari masa silam yang pernah menorehkan tinta di atas beberapa lembar kertas di kanvas masa lalunya.

note: Sebenarnya FF ini di post untuk memperingati hari Ayah. Tetapi, postingan in sudah jauh dari deadline ya. Hehehehhe. Ngak apa-apalah, ya. Terima kasih sudah berkunjung.