Misteri Rumah Kost Sebelah oleh Wardatul Aini
“Aaaaaaaaaaaaaaaa...,”
suara cempreng khasnya Dinda terdengar sampai ke dapur.
“It...
itu... suara...Din,” Sasa, Tania, Suci dan Mirna gagap sambil saling tunjuk.
Tadi
sepulang dari warnet Dinda sempat memergoki sesosok bayangan di depan rumah
kost. Tidak mau menyimpan takut seorang diri, Dinda berbagi cerita pada keempat
teman kostnya yang lain. Sejam kemudian, hal yang sama kepergok oleh Tania.
Sewaktu akan menggembok sepeda motornya, tanpa
sengaja mata Tania menangkap sesosok bayangan dengan ciri-ciri sama
persis seperti dalam cerita DInda. Dengan wajah pucat pasi, Tania kembali ke
belakang dan mencertakan perihal tersebut pada yang lainnya.
“Kenapa,
Din. Mana pencurinya? Kamu gak kenapa-kenapa,kan?”
“Itu.
Aaaaaaa....”
“Mana,
mana pencurinya?”
“Jangan-jangan....”
“Hantu!”
teriak Tania, Mirna dan suci berbarengan.
“Apaaan
sih kalian! Aku digigit semut tahu. Kakiku sakit,” sungut Dinda, lantas
beranjak pergi meninggalkan keempat temannya dengan wajah bengong.
Oalah,
keempat anak manusia itu mendesah kesal. Padahal saat mendengar teriakan Dinda
jantung mereka bergedub cepat barangkali sosok bayangan yang dicurigai sebagai
pencuri muncul di hadapan Dinda. Tahu-tahunya, Dinda digigit semut.
Huffff!
Biarpun
demikian, misi tetap dilanjutkan. Memecahkan misteri sosok bayangan yang muncul
di halaman kost. Kelima gadis itu masih penasaran dengan sosok bayangan yang
malam ini sudah terlihat dua kali di halaman rumah kost mereka.
“Yakin
kita ngumpet di sini? Banyak nyamuk.”
“Sabarlah,
Tan. Protes mulu kamu,” timpal Sasa.
Jam
menunjukkan pukul 23.25 WIB. Kelima gadis itu masih bersembunyi di balik
jejeran pot bunga di sudut kanan rumah kost. Tania berkali-kali mengangkat
bendera putih yang artinya dia sudah
menyerah. Keinginannya ditentang oleh Sasa, gadis bertubuh bongsor yang
ditunjuk sebagai Tetua di kost tersebut..
“Kalau
Tetua yang ngomong harus nurut. Sekali nggak boleh, ya nggak boleh.”
Tepat
jam 23.59 WIB, lolongan anjing mulai bersahut-sahutan dan terdengar sangat
jelas. Hawa dingin menambah suasana angker, sepoi-sepoi hembusan angin membuat
bulu kuduk merinding. Sosok bayangan yang ditunggu tak juga kunjung hadir.
“Malam
ini malam apa?”
“Malam
jumat,” jawab Dinda cepat.
“Apa?
Malam jumat? Lolongan Anjing? Ayolah, udahan aja. please.”
Di
antara remang-remang cahaya rembulan, terlihat jelas tubuh Tania yang
gemetaran, suaranya juga parau. Gadis itu terkenal sangat penakut.
Tanpa
mengindahkan lagi perintah Sasa, pelan Tania membalikkan badan.
“Whoaaaaaaa...,”
teriak Tania kuat.
Latah,
Sasa langsung mendaratkan sebuah pukulan tepat di pundak makhluk yang mereka
tidak tahu berjenis apa. Pocong? Bukan? Kuntilanak? Bukan juga? Saat Tania
membalikkan tubuh beberapa detik sebelumnya, makhluk itu berdiri tepat di
hadapannya, hanya berjarak sekitar sepuluh centimeter. Tanpa ba bi bu, Sasa selanjutnya melepaskan
kain sarung yang dipakai sebagai penutup wajah, terlihatlah oleh mereka,
makhluk yang hampir membuat jantung Tania copot adalah seorang lelaki. Untuk
melumpuhkan lawan, Sasa kembali menghadiahi lelaki itu beberapa pukulan. Selang
beberapa waktu, tibalah pak RT beserta para pemuda kampung.
“Benar
itu orangnya?” tanya pak RT pada perempuan cantik yang berumur sekitar dua
puluh tahun, perempuan itu mengangguk.
Ternyata
dan ternyata, lelaki itu bukanlah pencuri. Lelaki dan perempuan itu ketahuan
berdua-duaan di rumah kost sebelah, dua kali sebelumnya sempat kepergok oleh warga namun lelaki itu berhasil kabur dan bersembunyi di
halam rumah Sasa Cs.
“Kirain
pencuri, eh rupanya,” Tania mengurut dada. Malam ini ia bisa tidur terlelap.
Bayangan yang mereka curigai sebagai hantu ternyata hanyalah lelaki yang sedang
melarikan diri setelah kepergok warga.
Memangnya
hantu ada bayangannya, ya? Hmmm.
“Pantas
saja beberapa kali kutemukan kondom bekas di halaman kita. aku kira punya kamu
Tan.” Mirna menggoda Tania yang masih pucat.
Berkat
keberanian Sasa yang mendaratkan pukulan pada lelaki yang sedang diburu itu,
Pak RT menghargainya dengan mengundang mereka atas nama jamuan makan malam.
“Tapi
gak apa woi, besok kita diundang
makan gratis ke rumah pak RT,” timpal Suci sumringah.
Bagi
anak kost tiadalah yang lebih indah selain mendapat undangan makan gratis.
